APAKAH PEMBACA METER BISA DIPIDANAKAN?

November 20, 2015


Pertanyaan
Kami suatu perusahaan air minum, setiap bulan kami harus melakukan pembacaan meter air pelanggan. Ada kalanya petugas kami tidak menemukan pemilik rumah. Bagaimana jika Petugas kami memasuki pekarangan apakah bisa diadukan atau dipidanakan? Mohon saran terkait hal tersebut.
 

Gambar: Meter Reading (Sumber Dreamstime.com)


Jawab
Memang suatu dilema ketika kita menemukan kejadian tersebut, bagaimana kalau pemilik rumah tidak suka atau malah melaporkan petugas?
Jika hal tersebut terjadi  ada kemungkinan pencatat meter tersebut “di jerat” dengan pasal Pasal 167 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”):
“Barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum atau berada di situ dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak pergi dengan segera, diancam dengan pidana penjara paling lima sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”
Dalam pasal tersebut jika diuraikan maka terdiri dari unsur-unsur:
1.       memaksa masuk ke dalam:
2.       terhadap objek rumah,  ruangan, pekarangan yang tertutup;
3.       dengan melawan hukum.
Soesilo (1991:143) mengatakan untuk menjelaskan pasal 167 KUHP ini merupakanhuisvredebreuk” yang artinya pelanggaran hak kebebasan rumah tangga. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa perbuatan yang diancam hukuman dalam pasal ini adalah:
1.       Dengan melawan hak masuk dengan paksa ke dalam rumah, ruangan tertutup, dan sebagainya;
2.       Dengan melawan hak berada di rumah, ruangan tertutup, dan sebagainya, tidak dengan segera pergi dari tempat itu atas permintaan orang yang berhak atau atas orang yang berhak.
R. Soesilo mengatakan “masuk begitu saja” belum berarti “masuk dengan paksa” ialah masuk dengan melawan kehendak yang dinyatakan lebih dahulu dari orang yang berhak. Pernyataan kehendak ini bisa terjadi dengan jalan rupa-rupa, misalnya: dengan perkataan, dengan perbuatan, dengan tanda tulisan “dilarang masuk” atau tanda-tanda yang lain yang dapat dimengerti oleh orang didaerah itu. Pintu pagar atau pintu rumah yang hanya ditutup  begitu saja itu belum berarti orang tidak boleh masuk. Apabila pintu itu “dikunci” dengan kunci atau alat pengunci lain atau ditempel dengan tulisan “dilarang masuk” maka barulah berarti bahwa orang tidak boleh masuk di tempat tersebut.
Apabila pekarangan rumah Pelanggan yang ditinggal penghuni terdapat tulisan “Dilarang Masuk” dan/atau digembok/dikunci namun pencatat meteran memaksa masuk dengan cara merusak kunci pagar atau meloncat pagar maka dikategorikan Melanggar pasal 167 ayat (1) KUHP.
Dalam kasus ini asusumsi kami bahwa semua meteran Pelanggan berada di luar rumah atau berada di sekitar pekarangan rumah maka apabila pencatat meteran akan masuk ke pekarangan rumah pintu pagarnya terbuka atau tidak dalam keadaan terkunci atau bahkan tidak memiliki pagar. Oleh sebab itu, tidaklah tepat dikatakan memaksa/menerobos masuk dengan melawan hukum pada seorang pencatat meteran yang masuk pekarangan yang secara kebetulan pintu pagarnya tidak tertutup atau tidak terkunci untuk mencatat data meteran Pelanggan (dalam hal ini untuk tagihan Pelanggan) di pekarangan itu.
Namun kami saran kan jika memang rumah Pelanggan Anda memiliki pagar yang digembok, sebaiknya anda tidak memaksakan untuk masuk. Dan dalam proses pembacaan mintalah izin kepada apparat setempat untuk melakukan pendampingan. 
Demikian sharing dari kami, semoga bermanfaat. Terimakasih
Daftar Pustaka

  1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) 
  2. R. Soesilo, 1996. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Penerbit Politeia, Bogor

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan