Mengenal Tuntutan Pidana Percobaan Ahok

April 20, 2017

sumber gambar:youtube.com

Pada sidang terbuka pembacaan tuntutan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) di Pengadilan Jakarta Utara tanggal 20 April 2017, Jaksa Penuntut umum menuntut Ahok atas kasus penodaan agama dengan hukuman satu tahun dengan masa percobaan selama dua tahun.

Pada pembacaan tuntutan tersebut ada juga hal-hal yang memberatkan seperti menimbulkan keresahan dan kesalahpahaman di masyarakat. Sedangkan hal yang meringankan adalah sopannya Ahok dalam persidangan, turut andil dalam pembangunan serta perilaku bersikap humanis.

Apabila nanti hakim mengabulkan tuntutan jaksa penuntut umum karena hakim menganggap Ahok secara sah dan meyakinkan telah terbukti melakukan tindak pidana yang telah didakwakan kepadanya maka Ahok harus menjalankan hukuman pidana percobaan selama 2 tahun.

Sebenarnya apa itu Pidana Percobaan?

Dalam Pasal 14 a ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana berbunyi:

Apabila hakim menjatuhkan pidana paling lama satu tahun atau pidana kurungan, tidak termasuk pidana kurungan pengganti maka dalam putusannya hakim dapat memerintahkan pula bahwa pidana tidak usah dijalani, kecuali jika di kemudian hari ada putusan hakim yang menentukan lain, disebabkan karena si terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum masa percobaan yang ditentukan dalam perintah tersebut di atas habis, atau karena si terpidana selama masa percobaan tidak memenuhi syarat khusus yang mungkin ditentukan lain dalam perintah itu.

R.Soesilo  dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (halaman 40) mengatakan bahwa ketentuan dalam pasal ini biasa disebut peraturan tentang hukuman dengan perjanjian atau hukuman dengan bersyarat atau hukuman janggelan. Dalam pokoknya ialah orang dijatuhi hukuman, tetapi hukuman itu tidak usah dijalankan, kecuali kemudian ternyata bahwa terhukum sebelum habus tempoh percobaan berbuat peristiwa pidana atau melanggar perjanjian yang diadakan oleh hakim kepadanya, jadi keputusan penjatuhan hukuman tetap ada, hanya pelaksanaan hukuman itu tidak dilakukan.

Lebih lanjut R. Soesilo juga mengatakan bahwa penjatuhan hukuman semacam ini ialah untuk memberi kesempatan terhukum supaya dalam tempoh percobaan itu memperbaiki diri dengan tidak berbuat peristiwa pidana atau tidak melanggar perjanjian yang diberikan kepadanya dengan pengharapan jika berhasil hukuman yang telah dijatuhkan kepadanya itu tidak akan dijalankan untuk selama-lamanya.

Dari Penjelasan R.Soesilo di atas, orang yang dijatuhi pidana percobaan tetap disebut sebagai terpidana walaupun hukuman tidak harus dijalankan. Pidana ini hanya dapat dijatuhkan terhadap penjatuhan pidana penjara tidak lebih dari satu tahun dan pidana kurangan yang bukan kurungan pengganti denda. Jika selama masa percobaan siterpidana melakukan pidana kembali, maka terpidana harus menjalankan hukuman penjara atau kurungan.

 

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan