PENGAMBILAN AKTA CERAI DI PENGADILAN AGAMA

Mei 4, 2017

ilustrasi Akta Cerai

Bagi orang yang ingin melakukan pernikahan dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945, sebagaimana dalam Pasal 28B ayat (1) memberikan jaminan bahwa setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah, dalam hal ini termasuk janda atau duda.

Supaya suatu perkawinan sah maka harus dilakukan dengan hukum agama dan yang selanjutnya dilakukan pencatatan menurut peraturan yang berlaku, sebelum menikah harus mengurus dokumen-dokumen yang harus dibawa ke Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan untuk mendaftarkan pernikahannya.

Bagi duda cerai hidup dan/atau janda cerai  hidup yang ingin menikah lagi salah satu syarat yang harus dibawa adalah Akta Cerai asli, hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana dilakukan beberapa daerah.

Akta cerai merupakan sebuah akta otentik yang dikeluarkan oleh pengadilan agama sebagai bukti telah terjadi suatu perceraian. Akta ini bisa terbit jika sebelumnya sudah ada permohonan cerai oleh suami atau gugatan cerai dari istri yang kemudian diputus dan memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht). Suatu putusan pengadilan agama atas perceraian bisa dikatakan inkracht apabila sudah 14 (empat belas) hari sejak putusan dibacakan hakim dan dalam hal ini kedua pihak hadir dan atas putusan tersebut tidak ada upaya banding. Namun, jika salah satu pihak atau Kedua pihak tidak hadir maka dikatakan inkracht apabila sudah 14  (empat belas) hari sejak pemberitahuan isi putusan telah disampaikan dan para pihak tidak melakukan upaya hukum banding atau verzet.

Sesuai dengan Pasal 84 ayat (4) Undang-Undang No.7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama bahwa waktu yang dibutuhkan untuk keluarnya akta cerai adalah selama 7 (tujuh) hari sejak putusan cerai inkracht. Untuk mengambil akta cerai dapat dilakukan dengan cara mengambil sendiri dengan dengan membawa KTP, dilakukan keluarga dengan surat kuasa khusus dan KTP atau dilakukan oleh Kuasa Hukum denga surat kuasa khusus untuk mengambil akta cerai.

Bagi orang yang sudah diputus cerai pengadilan agama kadang memiliki kendala untuk melakukan pendaftaran nikah karena tidak diperolehnya akta karena tidak mengikuti proses perceraian  namun sudah ada pemberitahuan  dan tidak mengambil akta cerai atau ada yang mengikuti namun aktanya hilang.

Sesuai dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 9, apabila akta cerai (surat cerai) tidak ditemukan karena hilang dan sebagainya dapat dimintakan salinannya kepada Pengadilan Agama, jika saat dimintakan tidak diperoleh maka dapat diajukan permohonan kepada pengadilan agama dimana cerai di sidang.

Dalam mengurus akta cerai yang hilang di pengadilan agama, maka biasanya hal yang perlu dilakukan sebelumnya adalah:

  1. mengurus surat keterangan hilang dari kepolisian;
  2. kemudian mengurus surat keterangan belum menikah lagi setelah cerai.

Setelah memperoleh Kedua dokumen tersebut, dengan membawa KTP dan surat permohonan untuk menerbitkan kembali akta cerai ke pengadilan agama. Setelah itu pihak pengadilan akan memberikan pemberitahuan bahwa surat pengganti akta cerai sudah bisa di ambil.

 

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan