Mendendam: Sebuah Cerpen Karya Sang Sarjana Hukum

Mei 30, 2017

Gambar: Buku “Mendendam”

Tak lama setelah mendengar penjelasan wanita itu, muncul pikiran yang tidak biasanya di dalam kepalaku. Sebagai pengacara yang telah berkarier secara profit selama lebih dari empat tahun, menangani kasus perceraian adalah hal yang sering kukerjakan. Selalu kuupayakan apa pun yang diminta klienku kepada ku. Namun , entah mengapa, aku tidak bisa melihat hal yang pantas dari keinginan wanita itu. Usia pernikahannya telah mencapai tujuh tahun dan telah menghasilkan satu orang anak. Aku merasa ingin mencari tahu sesuatu.”

Di atas merupakan satu paragraf penggalan salah satu judul cerita cerpen yang ada pada kumpulan cerpen karya sahabat saya Arie Siregar.

Jujur, saya bukan orang yang suka membaca buku-buku fiksi seperti cerpen. Kalaupun saya harus disuruh membaca lebih baik saya membaca Buku M.Yahya Harahap, S.H. yang berjudul Hukum Acara Perdata dengan tebal buku kurang lebih 914 halaman.

Awalnya, tanggal 2 mei 2017 saya melihat dilaman facebook sahabat saya ini mem-posting sebuah gambar dengan caption Alhamdullilah. Akhirnya anak pertama saya ini akan segera lahir. Segera melayang ke tempat kamu. Untuk kamu yang penasaran ingin baca, yang ingin menambah koleksi rak bukunya, bersabarlah menunggu”. Dalam hati, oh ya ternyata seorang sahabat yang dulu pernah ikut aksi untuk memperjuangkan warga Batang sewaktu magang di LBH Semarang  ternyata memiliki jiwa sastra, dan tidak tanggung tulisannya tentang kehidupan percintaan. Aimak Pikirku. hahaha

Kemudian Beliau menawarkan saya untuk membeli “Anak pertamanya” ini melalui sebuah kolom komentar di Facebook sahabat yang lain dan dia mengatakan bahwa buku ini bisa dipersan lewat penerbit Leutikaprio atau pesan lewat dia sendiri. Kemudian sayapun memutuskan untuk membeli langsung dari sang penulis, transaksi kami pun berlanjut di WhatsApp, harga buku itu dia jual dengan harga yang sangat terjangkau.

Gambar: leutikaprio.com

Buku itu pun sampai ditangan saya, pertama saya tidak mengerti tentang maksud dari cover buku itu dimana ada seorang pria yang tiduran sambil membungkukkan badannya dan ada gambar siluet wanita setengah badan. Baiklah, saya pun langsung membaca. Hari pertama saya hanya membaca satu judul saja saat disore hari sambil ngopi sebelum saya pulang dari kantor.

Disela-sela kerjaan saya, saya hanya hanya bisa menghabiskan lima hari untuk membaca 12 scene dari Kumpulan Cerpen ini. Cukup membantu saya mengurangi “stress” dengan rutinitas kerjaan yang berhadapan dengan masalah-masalah hukum, menjawab pertanyaan konsultasi hukum dan membuat draft-draft perjanjian.

Cerpen ini banyak bercerita tentang percintaan, persahabatan, pekerjaan sampai keluarga. Bahasa dalam Buku si Sahabat ini sangat sederhana sekali walaupun terdengar sangat puitis, namun ketika membaca dari awal kita tidak akan bisa langsung menebak akhir dari setiap cerita layaknya kita menonton FTV yang begitu baca judulnya kita tau ending-nya, hahaha. Tapi saya pastikan ketika kita membaca kita akan bisa mengikuti alur ceritanya.

Salah satu Scene yang paling saya suka adalah yang berjudul “Kalau Saja Kutahu”, yang bercerita tentang cinta seorang wanita yang diam-diam berjuang untuk seorang pria yang diam-diam juga mencintai si wanita ini. Behhh…

Pada akhirnya setelah saya membaca semua cerpen ini, saya pun mengerti maksud dari sampul yang tadi. Cukup mewakili seluruh scene. Buku ini sangat Recommended, saya jamin.

Tetaplah berkarya wahai Kau “Lelaki Yang Mencintai Ibunya”. Ditunggu “anak keduanya”.

 

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan