HIDUP RUKUN DI NEGERI TANJUNG PERAK

Juni 6, 2017

Salah satu yang membedakan Indonesia dengan negara lain adalah Panacasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika-nya. Dengan berbagai macam agama dan suku menjadikan Indonesia memiliki kekayaan yang tak terhingga.

Kita pernah melihat bagaimana kerukunan umat beragama di Solo, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodingratan dan Masjid Al-Hikmah dimana kedua tempat ibadah tersebut dibangun berdempetan. Selain itu antara umat pemeluk kedua agama kristen dan islam tersebut juga melakukan koordinasi terkait dengan acara hari raya masing-masing agama. Masih banyak contoh-contoh bagaimana orang-orang yang berbeda agama disuatu daerah saling menghargai satu sama lain tanpa perlu membatasi persaudaraan.

Namun akhir-akhir ini ada beberapa oknum menjadikan agama sebagai pemicu pertentangan dengan orang lain bahkan dengan satu agama sendiri karena mereka lebih memilih tetap menghargai perbedaan. Seharusnya agama dijadikan sebagai pondasi untuk perdamaian dan persatuan, tapi apakah itu sengaja atau tidak mereka yang mengatasnamakan agama menganggap orang lain tidak layak untuk berada disekitar mereka.

Kefanatikan orang-orang tertentu terhadap agamanya membuat dirinya begitu gampang dan terang-terangan mengatakan bahwa agama orang lain adalah agama yang salah dan pengikutnya tidak pantas untuk masuk surga. Mereka tidak memahami bagaimana fungsi agama yang sesungguhnya.

Tindakan-tindakan mengatasnamakan agama untuk membeci orang lain bukanlah ajaran agama. Bahkan sebenarnya agama pasti mengajarkan bagaimana hidup saling menghargai antar berbagai golongan. Orang yang mempunyai agama tapi tidak toleran terhadap orang lain sebenarnya sudah merusak agamanya itu sendiri serta merusak kemajemukan agama dalam suatu komunitas bernegara.

Terbaru yang membuat semua hal-hal negatif dalam beragama terlupakan adalah bagaimana masyarakat Tanjung Perak Surabaya menunjukkan hidup berpancasila di  bulan suci Ramadhan. Sebagaiama saya kutip di salahsatu akun facebook yang memosting  gambar dengan caption:

Inilah Indonesia yang sesungguhnya…. Saling menghargai satu sama lainnya, tanpa memperdulikan apa agamanya… bukankah akan indah jika Indonesia seperti ini..? Indonesia itu ditakdirkan dengan penuh kebudayaan, keanekaragaman dan berbagai macam kepercayaan…. Ora ming kapir kopar kapir…. Kapir Young Egg… (Ndog-mu)

Gambar: Screenshoot Kegiatan Masyarakat Tanjung Perak

Pada gambar postingan tersbut terlihat bagaimana masyarakat GKJW Jemaat Tanjung Perak berbagi ta’jil gratis. Kita bisa melihat orang yang membagikan  ta’jil tersenyum bahagia, begitu juga masyarakat yang lewat menerima dengan bahagia tanpa berfikir “pantas atau tidak pantas”.

Apa yang dilakukan oleh masyatakan Tanjung Perak surabaya dan masyarakat lain yang saling menghormati ini sebenarnya bisa terjadi di seluruh pelosok negeri ini dengan mengembangkan dialog yang berlandaskan kesadaran bahwa dengan mereka tinggal dan hidup di Indonesia maka segala perbedaan tidak akan bisa disingkirkan karena itu merupakan martabat dari manusia Indonesia.

Penghargaan hidup terhadap perbedaan golongan tertentu, hidup rukun tidak hanya menjadi kebutuhan dan tuntutan dan kewajiban agama, tapi lebih tinggi lagi adalah kemanusiaan. Karukunan antar golongan adalah suatu konsekwensi dari kemanusiaan tadi.

Nilai toleransi sudah ada sejak dulu, jadi kalau ada yang berusaha merusak bukanlah bagian dari budaya Indonesia. Jauh sebelum lahirnya Pancasila, para pemikir Sumpah Pemuda telah menyadari bagaimana kemajemukan dari Indonesia dan pantas untuk dipertahankan. Dari nilai-nilai mengkristal menjadi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45.

Lalu, apakah kita harus biarkan orang-orang merongrong nilai-nilai pancasila dengan memasukkan paham-paham pemecah belah. Sudah seharusnya kita mulai dari diri masing-masing sehingga dari Saya Pancasila, Saya Indonesia maka akan menjadi Kita Pancasila, Kita Indonesia dan Kita adalah saudara dalam kemanusiaan. (SH)

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan