Daluarsa Penuntutan Dan Daluarsa Menjalankan Pidana

Juni 12, 2017

Pertanyaan:

Mohon penjelasannya apakah kasus pidana bisa ada masa kadaluarsanya? Sampai berapa tahun kalo ada kadaluarsanya?

Gambar: Pertanyaan Melalui Facebook

Jawaban:

Terima kasih atas Pertanyaannya,

Karena saudara tidak menjelaskan daluarsa apa yang saudara maksud maka kami akan menjelaskan daluarsa dalam penuntutan dan menjalankan hukuman.

Penuntutan sesuai dengan Pasal 1 angka 7 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang  dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan duputus oleh hakim di sidang

KUHP mengatur beberapa hal yang menyebabkan gugurnya kewenangan jaksa dalam melakukan penuntutan yaitu:

  1. Tidak adanya aduan pada delik aduan;
  2. Ne bis in idem;
  3. Meninggalnya pelaku;
  4. Daluarsa;
  5. Telah dibayarkan dendan maksimum kepada pejabat tertentu terhadap pelanggaran yang hanya diancam dengan denda saja;
  6. Adanya suatu abolisi atau amnesti.

Dari beberapa hal yang menyebabkan gugurnya kewenangan jaksa adalah DALUARSA. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  daluarsa/kedaluarsa adalah sudah lewat (habis) jangka waktunya (tentang tuntutan dan sebagainya);habis tempo.

Gambar: azcentral.com

Daluarsa penuntutan diatur dalam Pasal 78 KUHP yaitu:

  1. Sesudah 1 (satu) tahun untuk semua pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan dengan percetakan;
  2. Sesudah 6 (enam) tahun untuk kejahatan yang diancam dengan pidana denda, pidana kurungan, atau pidana penjara paling lama tiga tahun;
  3. Sesudah 12 (dua belas) tahun untuk kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lebih dari tiga tahun,;
  4. Sesudah 18 (delapan belas) tahun untuk kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup,.

Bagi orang yang pada saat melakukan perbuatan umurnya belum 18  (delapan belas) tahun, masing-masing tenggang daluarsa di atas dikurangi menjadi sepertiga.

Jatuh tempo gugurnya penuntutan dihitung mulai dari keesokan harinya sesudah perbuatan dilakukan, kecuali (Lihat Pasal 79 KUHP):

  1. Untuk perkara pemalsuan atau merusak uang, dihitung esok hari sesudah orang lain memakai benda yang berhubungan dengan dilakukan pekerjaan memalsu atau merusak uang itu;
  2. Dalam perkara kejahatan Pasal 328, 329, 330 dan 333 KUHP, temponya dihitung mulai keesokan harinya sesudah orang yang kena kejahatan dilepaskan atau mati;

(baca juga: Persekusi Dalam Hukum Pidana )

  1. Dalam perkara pelanggaran Pasal 556 sampai 558a KUHP temponya dimulai dihitung keesokan hari sesudah daftar yang menyatakan pelanggaran yang demikian itu dipindahkan, menurut aturan undang-undang umum yang memerintahkan, bahwa daftar kantor pencatatan jiwa harus dipindahkan kekantor panitera manjelis pengadilan.

Sebagai contoh X berusia 28 Tahun mengurung seorang mahasiswa pada tanggal 1 Juni 2013, kemudian mahsiswa tersebut dilepas pada tanggal 1 Agustus 2013.

Dari kasus di atas, si X diancam dengan Pasal 333 yang dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun. Karena ancamannya lebih dari 3 (tiga) tahun maka daluarsa penuntutan terhadap X adalah selama 12 (dua belas tahun) yang dihitung mulai tanggal 2 Juni 2013. Berbeda jika pada saat melakukan si X melakukan pada saat berumur 17 (tujuh belas) tahun maka daluarsa penuntutan terhadap Z adalah 4 (empat) tahun sejak tanggal 2 juni 2013.

Kemudian dalam hukum pidana diatur lagi mengenai daluarsa menjalankan hukuman. Daluarsa menjalankan hukuman diatur dalam Pasal 84 KUHP yaitu:

  1. Sesudah 2 (dua) tahun untuk semua pelanggaran;
  2. Sesudah 5 (lima) tahun untuk kejahatan yang dilakukan dengan mempergunakan percetakan;
  3. untuk kejahatan lain sama dengan Pasal 78 KUHP ditambah sepertiga.

Tempo gugurnya itu sekali-kali tidak boleh kurang dari lamanya hukuman yang telah dijatuhkan. Tempo gugurnya menjalankan hukuman yaitu:

  1. kesekokan harinya setelah keputusan hakim dapat dijalankan (berkekuatan hukum tetap);
  2. jika terpidana melarikan diri sedang ia menjalankan hukuman, dihitung keesokan hari sesudah ia melarikan diri itu.
  3. Tempo tersebut tidak berjalan selama orang yang dihukum di perhentikan menjalankan hukumannya yang diperintah dalam undang-undang umum, demikian pula selama orang itu ditutup, meskipun karena hukuman lain.

Atas contoh di atas, jika X sudah dijatuhi hukum dengan Pasal 333 KUHP, maka untuk daluarsa menjalankan hukuman adalah sesudah 12 (dua belas) ditambah sepertiga atau 4 (empat) tahun menjadi 16 (enam belas) tahun.

Demikian Penjelasan kami, semoga bermanfaat.

Rujukan:

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan