MENANTI “WAKIL TUHAN” YANG BAIK DALAM SISTEM PERADILAN INDONESIA

Juni 16, 2017

Gamar: gigaom.com

Baru-baru ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) telah memberikan persetujuan prinsip untuk formasi hakim di tahun 2017 sebanyak 1.684 orang kepada Mahkamah Agung.

Tentunya ini adalah Berita yang sangat dinanti-nanti selama kurang lebih 7 (tujuh) tahun oleh lulusan sarjana hukum yang sudah menunggu adanya pembukaan seleksi calon hakim. Hal ini sebenarnya sudah wajar diadakan karena adanya hakim-hakim yang sudah pensiun yang tentunya menjadikan personil hakim di beberapa daerah akan berkurang.

Selain berkurangnya jumlah hakim yang disebabkan pensiun, ada juga yang disebabkan oleh kasus hukum yang menimpa hakim karena tidak jujur dalam melakukan proses peradilan, yang paling sering adalah kasus suap untuk mengubah putusan. Kasus yang paling memalukan  diantaranya kasus suap hakim tipikor semarang pada tahun 2012 kemudian yang terbaru pada tahun 2016 KPK menangkap hakim tipikor Janer Purba dan Toton. Seharusnya mereka memberikan keadilan kepada masyarakat karena ruginya negara atas tindakan hakim masih mau dibeli integritasnya.

Seorang hakim haruslah mengingat dan melaksanakan bagaimana syarat menjadi hakim sebagaimana dimaksud pada peraturan perundang-undang seperti:

  1. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
  3. mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan tugas dan kewajiban;
  4. berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela;

Harapannya dengan adanya penerimaan 1.684 orang calon hakim tersebut, dapat memperoleh orang-orang yang memenuhi dan memegang teguh syarat-syarat PENTING di atas agar julukan hakim sebagai “Wakil Tuhan” dalam dunia peradilan pantas di berikan kepada mereka yang terpilih menjadi hakim.

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan