ARUS BALIK UNTUK CARI UANG UNTUK MUDIK TAHUN DEPAN

Juli 1, 2017

Sumber Gambar: bobo.grid.id

Mudik merupakan satu tradisi dari perantau baik yang sedang study atau bekerja untuk balik ke kampung halaman. Katanya mudik berasal dari bahasa jawa ngoko yaitu mulih dilik ada juga yang bilang mulih dhisik yang berarti pulang untuk sementara/sebentar.

Mudik yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia sering dilakukan pada hari-hari raya besar agama seperti lebaran. Dengan tujuan berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara serta kerinduan terhadap kampung halaman tentunya membutuhkan dana untuk membeli tiket transportasi. walaupun membutuhkan dana, kita bisa melihat bagaimana orang-orang begitu ramai di terminal, bandara atau stasiun kereta api. Belum lagi tindakan-tindakan yang dialami oleh orang-orang dari beberapa perusahaan transportasi.

Dari pengalaman saya yang “ikut mudik” alias liburan  sewaktu lebaran 2017 ini ada hal-hal yang tidak manusiawi dilakukan oleh perusahaan atau mungkin itu oknum dari dari perusahaan bus. Saya beli tiket dari agen bus di Tangerang dengan tujuan Brebes dengan harga Rp.380.000,- (tiga ratus delapan puluh ribu) untuk tiket VIP Pukul 17.00 WIB Hari keberangkatan. Pada pukul 16.00 WIB saya telfon agen dan menanyakan apakah sudah ada bus yang akan saya gunakan, dan mereka menjawab sudah dan meminta saya segera ke loket. Setelah saya ke loket, bus ternyata belum ada dan orang di sekitar saya juga sudah ada yang datang karena disuruh agen bus pada Pukul 14.00 WIB. Setelah bus datang saya pun cukup kecewa karena saya disuruh masuk ke bus “Pariwisata” dari salah satu perusahaan bus yang tidak stiker “angkutan lebaran” serta tidak ada toilet seperti permintaan saya. Saya turun dan melapor ke agen dan dia hanya minta maaf dan mengembalikan uang saya sehingga harga tiket menjadi Rp.250.000 (dua ratus lima puluh ribu). Hal ini saya terima karena tidak ada jalan lagi karena saya sudah janji berangkat hari itu ke Brebes.

Setelah bus berangkat jam 17.00 WIB ternyata tidak langsung menuju Brebes, karena berhenti di dua loket. Diloket terakhir kami diminta menunggu dengan alasan ada macet padahal menurut kami karena masih ada kursi yang kosong sehingga agen menunggu penuh, dan apa yang terjadi kita baru berangkat jam 22.30 WIB setelah semua penumpang udah mulai marah.

Dari pengalaman yang saya alami, bisa saya simpulkan karena besarnya keinginan orang-orang untuk dapat mudik maka resiko apapun akan ditempuh.

Namun ada yang janggal dalam pikiran saya ketika saya melihat teman ada yang mudik hanya sekedar untuk pamer “kesuksesan”. Bahkan ada yang sampai rental mobil untuk digunakan mudik. Mudik dijadikan sebagai ajang pamer hanya untuk memperlihatkan kepada orang dikampung “saya sukses”. Hal ini karena mereka merasa bahwa kehidupan mereka dirantau tidak diketahui secara detail oleh orang-orang yang ada dikampung. Padahal apa yang mereka tampilkan sebenarnya adalah kamuflase.

Tibalah waktunya untuk balik keperantauan mari kembali mengumpulkan uang agar bisa mudik tahun depan. Jadikanlah mudik selanjutnya murni untuk tujuan mulia yaitu saling bersilahturahmi dan tidak ada beban bahwa kalau mudik mereka harus menunjukkan sesuatu demi pengakuan status sosial. Jika memang Tuhan memberikan rejeki, tidak ada salah membawakan oleh-oleh kepada orang-orang di kampung, namun jika belum ada rejeki tidak perlu memaksakan diri untuk berbuat sesuatu yang bisa menjadi beban setelah balik keperantauan. Karena orang-orang dikampung juga hanya membutuhkan berkumpul dan menikmati waktu bersama selama liburan.

Selamat bekerja kembali, semoga sukses.

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan